Desainer Grafis Profesional?

Desainer grafis harus selalu membuat beberapa alternatif desain
Kaget ketika mendengar ada logo sebuah bank BUMN seharga 15 miliyar padahal bentuknya hanya seperti selendang yang terbang? Kaget ada sebuah kampung desainer yang hanya tamatan SMP dan kalau siang jadi buruh, petani dan pekerjaan lainnya di pedesaan di Magelang yang bisa ditonton melalui sebuah film dokumenter berjudul Kampung Desain. Malam hari bikin logo dijual melalui sebuah website asing… Sebulan bisa 20 juta, dan setahun sampai 15 milyar, dari satu dua orang sampai ratusan orang yang menjadi desainer grafis otodidak di kampung tersebut. Dan sekarang di semua daerah  ada SMK dengan paket keahlian multimedia. Dan sebelumnya sudah ada satu atau dua orang yang menjadi pengusaha percetakan dengan belajar otodidak tentunya. Seorang anak SMK yang masuk sebuah talkshow televisi karena pendapatan fantastisnya dari desain grafis, atau seorang sarjana ekonomi yang sukses jadi pengusaha yang berkaitan dengan desain grafis, yaitu kedai digital. Desain grafis memang sudah menjadi ilmu sejuta umat… Kadang siapa pun bisa, sesuai seleranya, sesuai level pengetahuan, atau pengalamannya dalam dunia desain grafis. Makanya di tahun ketiga saya di daerah yang namanya foto dikecilin secara liar sampai foto yang dari normal menjadi terlihat gepeng sudah sering melihat dari hasil karya para desainer otodidak. Atau kalau lihat video typografi dari dari luar negeri mengenai himbauan jangan sampai huruf ditarik paksa… Tapi bagi yang otodidak seringnya ya peduli amat… Hmm… Malah ada teman kuliah saya yang merasa desain grafis sudah tidak bagus prospeknya? Apa iya...


Jujur, saya sendiri setelah lulus kuliah langsung bekerja sebagai desainer grafis selama 14 tahun di sebuah redaksi majalah di Jakarta, sesekali ada kerjaan desain grafis di luar kantor. Dari teman, atau pun dari luar yang langsung berani menelpon ke tempat kerja saya buat menanyakan siapa desain grafisnya. Tapi kebanyakan untuk di luar kantor saya berkutat di bidang pembuatan komik atau buku komik. Ya untuk menyeimbangkan antara tumpukan deadline di tempat kerja yang rada monoton sebagai desain grafis majalah anak-anak, maka komik adalah idealisme dari bergerilya komik fotokopian, sampai menembus ke penerbitan, juga komik online. Bikin komik sebenarnya gak beda jauh dengan ilmu desainer grafis, cuma kadar menggambar dan berceritanya lebih banyak. Layout tentu saja ada, apalagi untuk cover bukunya, pasti kerjaan desain grafis banget. Ketika di Jakarta kalau ada tawaran kerja saya sebagai desainer grafis atau komikus dihubungi via email atau sms, atau malah langsung ditelepon. Bikin janjian di sebuah tempat, biasanya tempat makan… Tentunya yang meneraktir adalah calon klien. Tapi kadang mendatangi langsung kantor dari klien yang menghubungi. Dan sebagai desainer grafis walaupun sudah kirim contoh karya via email, tentunya saya selalu mebawa kembali karya lainnya untuk dipresentasikan pas ketemuan secara langsung. Di ujungnya atau bagian pokoknya adalah soal harga. Kalau oke, maka langkah selanjutnya bisa langsung mengerjakan proyeknya, atau mengikuti tuntutan prosedur klien, terutama kalau kliennya perusahaan besar, kadang meminta profil dan proposal. Selain kontrak, tentunya…


Tiga tahun jalan saya tinggal di Kertasemaya, langkah pertama berdagang dengan mendirikan sebuah toko rencana awal memang toko alat tulis dan seni. Ini juga bagian dari hobi ketiganya saya setelah ngomik, karena komikus indi ya tentunya punya jiwa jualan buku secara mandiri… Maka jadilah saya pedagang. Dan keinginan saya jadi guru cepat juga terlaksana, karena ada sekolah pas di seberang rumah. Menjadi guru sebenarnya lebih seru, karena mengajar itu katanya membuat orang ketagihan. Senang berbagi ilmu, pengetahuan, juga awet muda karena ketemunya sama anak remaja, dan seimbang di ruang guru kalau mengobrol dengan guru senior. Desain grafis saya ditinggalkan? tentu saja tidak… Usaha dagang dan jasa saya masih berkaitan dengan dunia desain grafis. Tapi ketika saya pindah dari kota ke desa saya menyadari apa yang terjadi di awal cerita saya, selain tentunya menurunkan tarif desain grafis saya dari kota ke level desa… Itu juga kalau mau nerima jasa desain grafis. Ya, sempat satau atau dua kali nerima…


Kalau di desa harganya puluhan atau ratusan kali lebih murah, atau berlipa-lipat lebih murah lagi… Selain ada desain yang maunya gratis saja. Maka memang saya rada  ogah-ogahan mendesain untuk yang di desa, kecuali ada pertimbangan lain. Mungkin hal yang paling saya tidak sukai adalah selera “pemula” di desa. Dengan bayaran murah atau malah gratis memohon dibantu dibuatkan desain, setelah dibuatkan malah gak dipakai. Yang seperti ini mungkin gak akan saya penuhi untuk permintaan kedua kalinya, kalau minta didesainkan, istilahnya di-blacklist. Atau malah saya memilih lebih baik mengikuti penduduk sebuah desa di Magelang yang bikin desain untuk website asing. Harganya jelas, bayarannya dollar, desainnya bisa dipakai beberapa kali. Tapi ya itu dia saya memang menyukai berdagang dan mengajar, mendesain grafis akan saya perketat. Kecuali dengan pertimbangan lain… Asal sopan, jangan sampai meminta dibuatkan tapi malah gak dipakai. Kalau sudah begitu? Ya, harus malulah untuk minta didesainkan lagi, bikin saja desain sendiri dengan foto gepeng vertikal dan horizontal, imej ngeblur, dan font yang dirusak tarik kanan dan kiri! Karena itu memang seleranya… Mungkin. Dan niat saya mungkin selain mengajar adalah mendidik masyarakat umum supaya pas dalam hal memandang sebuah karya desain grafis! Semangart!

Comments

Popular Posts