Perkembangan Buku Di Desa? Atau Komik?

Ketika saya berada di kota besar, dan juga bekerja di sebuah penerbitan, aktif membuat buku jenis komik, dan terkadang ikut kegiatannya baik pameran dan diskusi dari tahun 2001 sampai tahun 2014. Dan sebelumnya juga bekerja di sebuah perusahaan komik di Bandung... Jadi cukup merasakan suka duka pembuatan buku di tahun 1997 sampai dengan  awal tahun 2000an... Mencoba jalur indi dengan membuat buku dengan produksi fotokopian, covernya saja yang dicetak, sampai era POD (Print On Demand). Mengenai penjulan buku? Pernah juga dengan cara jualan buku melalui acara komik, titip jual komunitas, sampai dengan nitip di toko buku yang berada di mall besar di ibukota. Nah, bagaimana dengan perkembangan buku sekarang? Terutama di daerah, tepatnya di desa?


17 Agustus bukan hanya hari kemerdekaan negara kita, sekarang bagi saya pribadi merupakan hari hijrahnya saya dari ibukota kembali ke desa. Di awal kepindahan saya, di tempat usaha yang saya dirikan sempat dibuatkan perpustakaan yang gratis dibaca di tempat, dan bayar sehari seribu kalau dibawa ke rumah. Dan saya juga sempat masih membeli beberapa buku komik untuk menambah koleksi, kalau kebetulan jalan ke Cirebon... Jujur, susah juga membuat perpustakaan di desa, jadi salut banget dengan yang sampai sekarang bersemangat tinggi. Dulu hanya pas mudik saja mencari tahu perkembangan buku dan penerbitan di desa, terutama Indramayu dan secara luas Cirebon dan sekitarnya... Dalam perjalanan tahun ketiga ini saya mau cerita hasil pantuan selintasnya. Mumpung ada komunitas perpus di Indramayu, tapi mudah-mudahan tidak menyurutkan semangatnya yang membaca ya...

Bisa dibilang di Cirebon atau apalagi Indramayu, usaha penerbitan itu bisa dibilang tidak ada. Koreksi saya kalau ternyata salah, ya... Paling ada juga cabang dari penerbit menengah atau besar. Maka ketika ada yang ingin membuat buku di Indramayu atau Cirebon bisa dibilang masih kesulitan, walau kalau usaha percetakan siy pasti ada. Tapi jumlah mencetak buku akan pengaruh dengan harga buku, belum dipusingkan dengan jalur distribusi yang tidak murah, promosi yang tidak mudah, dan kebingungan dalam pegudangan, dan sebagainya. Ditambah era digital semakin menggila... Bisa dibilang menerbitkan buku cetak sekarang lebih susah, apalagi menjualnya. Menerbitkan buku digital atau secara online itu mudah, tapi penghasilan berkali lipat lebih kecil... Jadi keberuntungan penghasilan besar itu masih milik beberpa pengarang buku saja. Tapi kalau semnagat menulis atau membuat buku masih menyala, siapa tahu keberuntungan rezeki dari buku ada pada anda. Coba saja! Daripada penasaran... ;)

Ok, karena saya dulu pernah memproduksi puluhan judul buku komik... Bolehlah menilai perkembangan komik sekarang, walau gak terlalu aktif, tapi masih mengikuti di beberapa forum komik di mana waktu dulu saya bersemangat sekali. Sama seperti buku pada umumnya, kebetulan buku komik masih kalah populer dari novel sejak saya mengikuti komik. Buku komik sekarang kayaknya semakin sepi, lomba dan acara komik pun turun kuantitasnya... Yang kadang ramai adalah perdebatan antar aktivis komiknya, dari dulu hehehe... Itu yang membosankan, sehingga muncul secara tidak sadar adalah kubu-kubuan... Ditambah komik yang digunakan untuk menyerang pada tema populer sekarang yaitu politik dan agama, ya populer tapi bikin gerah dan emosi. Beberapa komikus pun ada yang ke sandung masalah karena kebebebasannya yang kebablasan...  Kalau ke daerah? Komik gak sampai, apalagi harganya puluhan ribu, untuk orang desa itu mahal... Segitu saja kalau soal perkembangan komik sampai akhir tahun 2016 siy.

Jadi buku yang masih bagus bisnisnya, apa ya? Ya, tentu saja buku tulis xixixi... Setiap tahun ajaran baru pada borong, tentu saja. Terbagi dua jenis pembeli, pembeli yang sudah tahu enaknya produk bermerek, dan satu lagi yang penting murah. Dan ada satu lagi buku yang laris dan dicari oleh pelajar, ya tentunya yang berkitan dengan sekolahnya walaupun untuk buku paket siy sudah disediakan atau dikirimi ke setiap sekolah oleh pemerintah, dan ebooknya mudah dicari. Tapi tetap buku-buku yang berkaitan dengan pelajaran walau satu atau dua buku masih dicari, misalnya buku UUD 45, buku dongeng nusantara, dan buku agama, atau alquran. Itu yang paling aman buat jualan buku di desa, selalu ada yang mencarinya. Di luar itu baik buku komik, novel, dan buku lainnya rada susah menjualnya... Dan harganya juga gak semahal novel atau komik terbian penerbit besar.

Maaf, sekali-kali cerita yang kurang bersemangat tapi itu kenyataan yang ada pada perkembangan buku sekarang, terutama di Cirebon, Indramayu, terutama di desa... Saya mendoakan atu berharap komunitas atau aktivis atau pengsusaha perbukuan bisa berkembang karena semnagat 45nya. Tidak ada jalur monopoli yang mahal dari toko buku besar yang memotong 65% dari harga buku, tapi bikin jalur alternatif yang baik dan terpercaya. Pemerintah berusaha seoptimal mungkin dalam mengembangkan penerbitan buku dengan tetap menjaga kulitas an kuantitas semakin naik, misalnya pajaknya diapain gitu biar gak berat. Pembuat buku, pengarang, desainer grafis dan sebagainya terus membuat produk buku yang berkualitas dan kreatif tanpa perlu populer dengan konten negatif, dan jangan sok bebas tapi kebablasan. Dan semoga banyak aktivis perpustakaan tetap semangat dan terus kreatif, dan dunia buku terus maju, berkembang ke arah yang positif... amiiinnn...

Comments

Popular Posts